Jumat, 13 Maret 2015
Biodata
Nama : Adam Abdul Aziz
Tempat Tanggal Lahir : Majalengka, 04 Desember 1996
Alamat : Jalan Dukuh Warung Barat Kec.Kadipaten Kab.Majalengka
Nomor Telepon : 085759881240
Moto Hidup : Hiduplah seperti yang kita inginkan dan tidak menyusahkan orang lain.
Cita - Cita : Broadcaster,Writer
Facebook : Adam Abdul Azis
Rabu, 04 Maret 2015
Pengertian Film Documenter
Ok buat Agan dan Aganwati ini adalah postingan pertama ane nah sekarang ane mau ngasih Informasi Tentang Film Documenter Langsung ajakh chekidot....!!!!
Film dokumenter
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah
"dokumenter" pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926)
oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John
Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.
Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua
film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan.
Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter.
Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun. pada
dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter
berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.
Dokudrama
Pada perkembangannya, muncul sebuah istilah baru
yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian
film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail.
Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter,
yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.
Dokumenter modern
Para analis Box Office telah mencatat
bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui
film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth.
Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya
dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi
perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat
menghasilkan laba yang cukup besar.
Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak
era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya
Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger
& Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada
kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali
disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan
perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film
dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo
films atau docu-ganda.[1]
Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter
telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.
Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan
kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk
keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film
dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang
eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter
tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut memengaruhi para pengusaha
penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka.[2]
Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan
program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering
dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah
fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang
menyajikan proses produksi suatu Film atau video
game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat
kepada iklan daripada dokumenter klasik.
Kamera video digital modern yang ringan dan
editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas
dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat
dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin
Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera
DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk
merekam diri mereka sendiri.
Bentuk dokumenter lainnya
Film kompilasi
Film kompilasi dicetuskan pada tahun 1927 oleh Esfir
Shub dengan film berjudul The Fall of the Romanov Dynasty.
Contoh-contoh berikutnya termasuk Point of Order (1964) yang
disutradarai oleh Emile de Antonio mengenai pesan-pesan McCarthy dan The
Atomic Cafe yang disusun dari footage-footage yang dibuat oleh pemerintah
AS mengenai keamanan radiasi nuklir (misalnya, memberitahukan pada pasukan di
suatu lokasi bahwa mereka tetap aman dari radiasi selama mereka menutup mata
dan mulut mereka). Hampir mirip dengannya adalah dokumenter The Last
Cigarette yang memadukan testimoni dari para eksekutif
perusahaan-perusahaan tembakau di depan sidang
parlemen Amerika Serikat yang
mengkampanyekan keuntungan-keuntungan merokok.
Referensi
1. ^
Wood, Daniel B. (2 June 2006). "In
'docu-ganda' films, balance is not the objective".
Christian Science Monitor. Diakses 2006-06-06.
Langganan:
Komentar (Atom)